Selasa, 17 Januari 2012

Bercakap dengan Cermin

Menjemput senja berarti sama dengan mengalihkan pikiranku.
Pada hal yang bisa tersirat tapi tak bisa teraih.
Lelah,tapi masih juga kembali.
Lalu berjalan selangkah, lalu kembali mundur berlangkah-langkah.
Bermimpi secepat cahaya tiba diujung,tapi enggan berkemas.

Lalu untuk memanjakan jiwa.
Mengistirahatkannya sejenak,melepaskan pikir yg mulai menukik.

Mengingatmu adalah hal yang kusuka,sungguh.
Walau seperti membuka lembar demi lembar catatan usang
Tapi berfantasi itu membahagiakan.
Setidaknya lewat itu,kamu terasa dekat walau semu.

Jika Rindu itu adalah indah,
Kenapa selalu ada bilur-bilur air mata yang yg terjatuh?

Jika rindu itu kamu,
Kenapa hanya tampak sekelebat bayangan, lalu pergi memunggungiku.

Lalu,jika rindu itu derita kenapa kamu selalu hadir disaat aku membuka dan memutup mata?

Dan itulah aku,yang ingin memeluknya, Ia yang hanya ingin memeluk dirinya sendiri.













Sungguh jenaka sekali, bagaimana aku yang pelupa ini butuh jutaan waktu untuk melupamu. Menghapus senyummu butuh jutaan liter air mata. Merepih jejakmu butuh melewati ratusan mimpi.

Sungguh jenaka kamu membuat aku seperti ini, kamu mungkin sudah berada di jalan yang tak lagi sama, tapi aku terus melewati jalan itu untuk mencarimu.

Tuhan aku hanya ingin lupa.

Buatlah dia seperi kabut yang perlahan menghilang saat siang dan tak akan kembali esok pagi.

Boleh aku amnesia?


T_T

Tidak ada komentar: